Bambang Irawan dkk Insyaf
Alhamdulillah, saya dapat menghadirkan sebagian kisah nyata yang bersumber dari buku “Bahaya Islam Jama’ah LEMKARI LDII”, oleh LPPI (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam)Mereka yang Insaf dan Keluar dari LDII (kami contohkan lima orang saja)
ditulis oleh: tim LPPI (Lembaga Pengkajian Paham Islam)
———–
K.H. Achmad Subroto
Ia seorang pengasuh pesantren mini yaitu Al-Fatah dengan santri 20 orang, di Desa Banjarmasin, Kec. Buduran, 5 km dari kota Sidoarjo, Jawa Timur. Belajar Al-Qur’an dan hadits pertama kali lewat Nurhasan Al-Ubaidah, dan dalam tempo 6 bulan sudah menjadi kader.
Suatu ketika ia menanyakan masalah kepada Nurhasan Al-Ubaidah: “Kenapa Nurhasan yang sudah amir kok malah memberi contoh tindakan yang berlawanan dengan syari’at, yaitu bercanda dan berbicara cabul dengan wanita?” Nurhasan jadi berang, maka kemudian: “Saya disuruh tobat 50 hari 50 malam, dan dilarang mengikuti pengajiannya selama itu dan diharuskan bai’at lagi.” Tak lama setelah peristiwa itu, Subroto keluar dan sadar.
Rina Wien Kusdiani
Ia terlibat Islam Jama’ah/LDII pada tahun 1977 ketika seorang temannya datang memperkenalkan pengajian kepadanya. “Saya saat itu sangat ingin mempelajari agama. Kok datang temen saya, dan pengajarannya bagus,” kata Rina.
Akan tetapi setelah lama kemudian ia merasa seperti yang dikatakannya, “ada yang tidak beres dalam ajaran yang saya peluk ini.” Tutur Rina yang berkaca mata itu: misalnya soal keamiran yang menurut dia mirip kepausan (Katolik), juga pemaksaan pajak 10% dan pengafiran kepada orang lain yang tidak sealiran. Rina mengaku pernah 2 kali menghadap imam Nurhasan yang dikiranya bisu itu, di kompleks Islam Jama’ah/LDII di Karawang. Adapun kebisuan Nurhasan itu terjadi setelah peristiwa Malang: ia dipermak di sana, dengan ilmu ghoib segala, akibat melarikan gadis cantik kemenakan CPM ke Garut (TEMPO, 15 September 1979). Rina berkomentar, “Saya lihat orangnya kelihatan agak sok.” Rina juga mengaku pernah diintimidasi setelah keluar dari aliran sesat ini. “Tapi saya tidak takut.” Keyakinannya kini: “Kita kini harus terbuka, dan dalam mencari kebenaran harus melalui proses yang wajar.”
Bambang Permono
Pada tahun 1977 ia masuk Islam Jama’ah/LDII dan tahun itu pula dibai’at. Ia keluar dari aliran sesat ini karena beberapa peraturan yang dibuat amir tidak mungkin lagi diterimanya: pada waktu itu tidak boleh mendengarkan radio, nonton tv, baca koran, majalah dan lain-lain. Mungkin sekarang ini peraturannya sudah berganti dengan lunak. Tahun 1979 ia sudah mau keluar setelah ada peristiwa ramai-ramai Islam Jama’ah. Ketika itu ia pimpinan masjid di Cempaka, ia berada tak jauh dari masjid dekat rumah Benyamin di Kemayoran yang digerebek rakyat (TEMPO, 15 September 1979). Nah, Bambang saat itu ingin bertemu amir untuk minta pendapat: bagaimana jalan keluarnya kalau aksi masa merembet ke Cempaka. “Kok imamnya pada ngumpet. Batang hidung mereka tidak kelihatan. Padahal itu belum lagi masalah besar. Lalu bagaimana kalau yang lebih gawat terjadi?” Bambang ambil kesimpulan: pengurus tidak bertanggung jawab. “Di dunia sudah tidak berani menjamin apalagi di akhirat.”
Debby Nasution
Selebritis, pencinta lagu dan yang tergabung dalam group Achmad Albar, God Bless ini, termasuk tenaga militan Islam Jama’ah/LDII. Sebagian besar aktivitasnya, mulai dari ia masuk Islam Jama’ah sejak umur 18 tahun, diperuntukkan mengaji. Boleh dibilang Debby anak emas Ubaidah dan ini diakuinya.
Toh dia memberontak. Masalah pokok yang dia bahas kemudian ditentangkan pada amirnya, adalah soal keamiran dan bai’at dalam Islam. Tapi mengapa tidak sejak dulu? “Dulu itu darah muda,” katanya. Kemudian Debby mengaji kepada ustadz-ustadz lain dan akhirnya menemukan kepalsuan-kepalsuan hadits yang dijejalkannya selama ini. Beringas memang ciri Islam Jama’ah. Memaki kepada yang bukan Islam Jama’ah dengan sebutan babi, anjing, adalah lumrah. Menurut Debby, “Apa begitu moral Rasulullah?” Dan kata-kata itu diucapkan di masjid!
Bambang Irawan Hafiludin
Ia adalah orang kedua setelah Nurhasan Ubaidah Lubis. Bahkan pernah menjadi menantunya. Ayah 15 anak kelahiran Pamekasan Madura itu mengaku, sejak usia 20 tahun sudah bersimpati kepada aliran ini yang waktu itu masih bernama Darul Hadits. Memang demikian kuatnya pengaruh Nurhasan Ubaidah, menurut Bambang, sampai-sampai orang bersedia menelan ludahnya. “Alhamdulillah, saya tidak sampai berbuat begitu,” ujarnya. Caranya orang itu menguap, kemudian Ubaidah meludahi mulutnya. Konon agar mudah mencari ilmu.
Proses kesadaran timbul setelah pergi ke Makkah 1974. Di Makkah, ia dan rombongan tidak cuma naik haji tetapi juga belajar memperdalam Al-Qur’an dan hadits kepada beberapa ulama. Di Saudi memang usaha Darul Hadits mendapat pujian. Tetapi setelah diceritakan bagaimana prakteknya, ulama Syaikh Abdul Aziz malah berang.”Ini namanya pekerjaan dajjal,” ujar sang ulama Saudi itu. Bambang menyatakan resmi keluar dari aliran sesat ini awal Desember 1982. Setelah 23 tahun mabuk & tersesatkan di LDII. Bambang mengatakan bahwa tenaga teras aliran sesat ini umumnya hebat, semangatnya tinggi bisa baca kitab. Sayangnya mereka masih dalam biusan dajjal Madigol (Nurhasan Ubaidah).

